Kampungku

Jumat, 05 Agustus 2011

Suung bulan 
05/08/2011      

Berita ini saya tulis untuk anak anak cikawung yang suka mencari jamur/ suung supaya jagan kaget bila  menemukan  jamur/suung yang sebesar tampir. khususnya buat bang tegil ,nandar Anak anak cikawung Group supaya lebih semangat mencari jamurnya klo sudah menemukan jamur tersebut tolong hubungi warung bu Itit nanti akan saya kasih hadih yaitu berupa piagam peghargaan dari museum recor indonesia dan juga mendapatkan bingkisan bungkus tembako merk Simanalagi yang tiada duanya.

Suung bulan





Orang-orang Meksiko sepertinya punya rahasia khusus memelihara jamur raksasa(suung bulan cek sitegilmah), atau mungkin hanya karena kondisi lahan tumbuhnya yang bagus, atau hanya keberuntungan saja mendapatkan jamur supergede ini. Jamur ini ditemukan di sebuah kebun kopi di Chiapas, Meksiko pada bulan Juni 2007. Panjangnya 2 kaki dengan berat 44 ponds, ini lebih gede dari seorang anak laki-laki  . suung ini beda dari yang sering dicari oleh anak-anak cikawung yang paling besar mungkin hanya sebesar Piring itu juga susah mencarinya, harus turun bukit naik bukit menyusuri kaki gunung haruman. mungkin jika sitegil atau sinandar menemukan suung ini bisa langsung pingsan karena dikirinya suung jurig.


Jika ada kritik dan saran masukan aja ke kotak amal dan jangan lupa di isi juga kotak amalnya supaya dapat pahala. sekian dan terimakasih salam satu jiwa, satu kampung cikaewung punya kita semua.

Senin, 25 Juli 2011

Wisata garut

Kota Garut, Jawa Barat, mempunyai banyak destinasi wisata yang cukup menyenangkan untuk dikunjungi. Pemandian Air Panas Cipanas, salah satunya. Di tempat ini kita bisa berendam di kolam air panas alami. Banyak kolam renang ataupun pemandian yang dibuka untuk umum. Air panasnya yang alami mampu menghilangkan rasa lelah dan menghadirkan rasa nyaman.
Pemandangan dari tempat wisata ini juga cantik. Panorama gunung dan sawah mendominasi tempat ini. Bagi yang ingin menginap, penginapan dengan harga murah juga mudah ditemui. Hampir semua penginapan di tempat ini menyediakan kolam air panas untuk berendam.
Sejauh 14 km dari Cipanas ke arah Nagrek, terdapat obyek wisata Situ Cangkuang. Danau asri ini berada di Desa Cangkuang. Cangkuang adalah nama tumbuhan sejenis pandan yang banyak tumbuh di desa ini.
Dengan menyewa rakit Rp. 50.000 (pulang pergi) kita bisa menyeberang ke Kampung Pulo, Kampung tradisional yang unik karena hanya boleh di tempati 7 keluarga saja. Jika terjadi pernikahan yang menyebabkan hadirnya satu keluarga baru, maka harus ada keluarga yang meninggalkan Kampung Pulo. Di Kampung Pulo juga terdapat Candi Cangkuang .

Situ BagenditKembali dari Situ Cangkuang kita masih bisa melanjutkan perjalanan ke Situ Bageundit. Berkeliling danau dengan menyewa rakit menjadi pilihan yang cukup menyenangkan. Pemandangan cantik  selama berakit terhampar seluas mata memandang. Uniknya, di  tengah danau juga ada warung apung. Warung kecil yang berdiri diatas rakit juga. Di sekitar Situ Bageundit kita bisa menemukan banyak warung-warung makan yang cukup murah.
Selain tempat wisatanya, Garut juga terkenal dengan panganan dodol dan kerajinan kulit. Jika ingin membeli kerajinan kulit dengan harga murah, silahkan datang ke Sentra Industri Kerajinan Kulit yang terletak di Jalan Gagak Lumajang Sukaregang. Aneka kerajinan kulit seperti tas, dompet, sepatu, dan juga jaket kulit.

Nyanyu Partowiredjo, pelaku wisata
picnicholic@gmail.com

Minggu, 12 Juni 2011

Nyukcruk Galur Patilasan Sunan Haruman

Nyukcruk Galur Patilasan Sunan Haruman
Syekh Ja’far Shidiq dan Sambal Cibiuk

CUKUP banyak tokoh yang terkenal jasanya dalam menyebarkan Islam di Kab. Garut yang gaungnya meluas hingga luar daerah. Salah satunya adalah Syekh Ja’far Shidiq asal Kec. Cibiuk yang juga dikenal dengan sebutan Mbah Wali Cibiuk. Ia hidup sezaman, bahkan dikenal bersahabat baik dengan penyebar Islam lainnya di daerah Tasikmalaya, Syekh Abdul Muhyi.

Karena jasanya yang besar dalam menyebarkan Islam serta perkembangan kehidupan masyarakat Garut, khususnya di Garut Utara, makamnya yang terletak di kaki Gunung Haruman Desa Cipareuan, Kec. Cibiuk tak pernah sepi dari para peziarah. Belakangan, makam Syekh Ja’far Shidiq ini dijadikan Pemkab Garut sebagai salah satu objek wisata ziarah, tergolong ke dalam atraksi budaya peninggalan sejarah dengan bentukan fisik (relik/artefak) berupa makam. Selain berdoa dan menafakuri kiprah perjuangan Syekh Ja’far Shidiq dalam menyebarkan Islam, para peziarah juga dapat mempelajari kebudayaan, khususnya sejarah dan kebudayaan Islam.

Syekh Ja’far Shidiq tidak henti-hentinya mendorong umat untuk terus menggali serta mengembangkan ilmu dan kemajuan ekonomi, termasuk keahlian membuat makanan. Salah satu warisan dari Syekh Ja’far Shidiq yang hingga saat ini terus dikenal, yaitu “sambal cibiuk” yang dikembangkan putrinya, Nyimas Ayu Fatimah. Sambal cibiuk bahkan sudah menjadi trade mark di sejumlah restoran di beberapa kota besar seperti Bandung dan Jakarta.

Syekh Ja’far Shidiq juga meninggalkan warisan lain yang tak kalah pentingnya bagi pengembangan Islam, yaitu sebuah bangunan masjid yang hingga kini masih bisa dimanfaatkan umat Islam untuk berbagai kegiatan keagamaan. Masjid yang dibangunnya memiliki ciri dan corak khas bangunan masjid buatan para wali di Pulau Jawa, yaitu beratap kerucut dengan disangga oleh tiang-tiang kayu kokoh yang sambungannya tidak menggunakan paku.

Pada bagian atas atapnya dipasang sebuah benda berukir terbuat dari batu yang disebut masyarakat setempat sebagai “pataka”. Diperkirakan bangunan masjid tersebut sudah berusia lebih dari 460 tahun.

Masjid yang dikenal dengan sebutan masjid Mbah Wali tersebut terletak di Kp. Pasantren Tengah, Desa Cibiuk Kidul, Kec. Cibiuk. Sayangnya, bentuk bangunan masjid tersebut sudah banyak berubah dari aslinya. Sehingga harapan masyarakat setempat agar masjid tersebut bisa dijadikan salah satu bangunan cagar budaya sulit terwujud.

Menurut pengurus masjid Mbah Wali, Ahmad Zainal Muttaqien, masjid peninggalan Syekh Ja’far Shidiq tersebut aslinya berupa bangunan panggung berukuran 6 meter kali 6 meter terbuat dari bahan kayu dan bambu, dengan lantai dari palupuh (papan terbuat dari bambu, red). Atapnya berupa ijuk yang di atasnya dipasangi sebuah pataka. Masjid tersebut beberapa kali mengalami renovasi.

“Sekarang yang asli mungkin hanya tinggal kerangka dan bentuk bangunan serta patakanya itu. Atapnya sudah diganti genting dan palupuh juga sudah diganti dengan papan kayu,” katanya.

Saat ini, bangunan masjid Mbah Wali tersebut, bahkan sudah diperluas dengan cara disambungkan dengan bangunan masjid permanen di belakangnya yang berukuran 11 meter kali 13 meter. Perluasan bangunan dilakukan seiring bertambahnya jumlah penduduk di daerah tersebut. Dengan penambahan bangunan tersebut, masjid mampu memuat jemaah lebih dari 200 orang.

Masjid Mbah Ali Tempat Persinggahan Peziarah

SEBELUM memulai ziarahnya ke makam Syekh Ja’far Shidiq di kaki Gunung Haruman, biasanya para peziarah terlebih dahulu datang ke Masjid Mbah Ali. Mereka yang datang ke Cibiuk selain dapat berziarah ke kompleks makam Syekh Ja’far Shidiq dan Masjid Mbah Wali Cibiuk, juga bisa menikmati wisata kuliner sambal cibiuk yang tersedia di sejumlah warung dan restoran sepanjang jalur Jalan Raya Cibiuk. Dalam beberapa waktu terakhir, kawasan Gunung Haruman juga sering dijadikan arena olahraga paragliding yang mengundang banyak peserta dan penonton.

Makam Syekh Ja’far Shidiq berada di tengah kompleks makam seluas 5 hektare. Lokasi makam berjarak sekitar 300 meter dari ibu kota Kecamatan Cibiuk atau 21 km dari arah kota Garut. Dari arah Bandung maupun Tasikmalaya dapat dijangkau melalui jalur Nagreg-Balubur Limbangan. Dari Terminal Balubur Limbangan, makam tersebut hanya berjarak sekitar 10 kilometer.

Makam Syekh Ja’far Shidiq terdiri atas empat kompleks makam utama yang semuanya merupakan kerabat dekatnya yang juga terbilang penyebar Islam di daerah Garut. Keempat kompleks adalah Makam Eyang Abdul Jabar yang berada di sebelah Timur, dan agak ke tengah adalah makam Syekh Ja’far Shidiq sendiri. Ke arah barat terletak makam Nyimas Ayu Siti Fatimah, dan paling ujung makam Mbah Muhammad Asyim. Keempat kompleks makam utama tersebut dibatasi masing-masing oleh pagar bambu.

Pada kompleks makam Syekh Abdul Jabar terdapat juga makam Mbah Mas’ud atau Rd. Dipakusumah (cucu mantu dari Sykeh Abdul Jabar), dan Nyimas Syu’batul Alam (istri Mbah Mas’ud). Pada kompleks makam Syekh Ja’far Shidiq terdapat juga makam Nyimas Ajeng Kalibah (istri Syekh Ja’far Shidiq), Nyimas Ajeng Sawiyah (juga istri Syekh Ja’far Shidiq), Nyimas Ajeng Arjawulan (masih istri Syekh Ja’far Syidiq), Eyang Badruddin (putra Syekh Ja’far Shidiq dari Nyimas Arjawulan), Eyang Mubarok, dan Eyang Zakaria.

Selanjutnya pada kompleks makam Nyimas Ayu Siti Fatimah terdapat juga makam Eyang Abdul Barri dan Nyimas Aini (saudari Nyimas Ayu Siti Fatimah). Pada kompleks makam Mbah Asyim (cucu mantu Nyimas Ayu Siti Fatimah) terdapat pula makam Mbah Muhammad Nail dan Mbah Muhammad Arif.

Syekh Abdul Jabar adalah seorang penyebar Islam yang pernah melanglang dan bermukim di sebuah daerah di Palembang, Sumatra Selatan. Konon, ketika ia kembali pulang ke kampung halamannya ke Cibiuk, Garut, masyarakat setempat menyebutkan bahwa sang prabu mulih atau pulang kembali. Sehingga dari situlah muncul nama Prabu Mulih untuk suatu daerah di Palembang, tempat Syekh Abdul Jabar pernah bermukim. Karena itu pula, ia sering juga disebut dengan nama Mbah Lembang, yang maksudnya asal Palembang.

Karena makamnya di kaki Gunung Haruman, Syekh Abdul Jabar sering disebut juga sebagai Sunan Haruman. Namun, sebutan Sunan Haruman juga terkadang ditujukan kepada Syekh Ja’far Shidiq.

Sumber : Galamedia Bandung